Membalas Dengan Setimpal Atau Memaafkannya?

Posted on
Membalas Dengan Setimpal Atau Memaafkannya Membalas Dengan Setimpal Atau Memaafkannya?

Membalas Dengan Setimpal Atau Memaafkannya?

Bismillah…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ  وَالْاَرْضُ ۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Dan bersegeralah kau mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapat nirwana yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa..” [QS. Ali ‘Imran: 133]

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mengasihi orang yang berbuat kebaikan..” [QS. Ali ‘Imran: 134]

Telah menceritakan kepada kami Abdush-shamad, beliau mengatakan, Aku mendengar al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,

إِذَا أَتَاكَ رَجُلٌ يَشْكُو إِلَيْكَ رَجُلًا , فَقُلْ: يَا أَخِي اعْفُ عَنْهُ فَإِنَّ الْعَفْوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى …

“Jika seseorang tiba kepadamu untuk mengadukan orang lain kepadamu, maka katakanlah kepadanya, ‘Wahai saudaraku, maafkanlah dia, alasannya pemaafan itu lebih bersahabat kepada ketakwaan..’

فَإِنْ قَالَ: لَا يَحْتَمِلُ قَلْبِي الْعَفْوَ وَلَكِنْ أَنْتَصِرُ كَمَا أَمَرَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ …

Jika beliau mengatakan, ‘Hatiku tidak sanggup memaafkan, tetapi saya akan membalas sebagaimana yang diperintahkan Allah azza wa jalla..’

قُلْ: فَإِنْ كُنْتَ تُحْسِنُ تَنْتَصِرُ مِثْلًا بِمِثْلِ وَإِلَّا فَارْجِعْ إِلَى بَابِ الْعَفْوِ , فَإِنَّ بَابَ الْعَفْوِ أَوْسَعُ …

Katakanlah, ‘Jika engkau sanggup membalas dengan baik, balaslah dengan yang setimpal. Jika tidak, maka kembalilah kepada pintu ampunan, alasannya ia yaitu pintu yang lebih luas..

فَإِنَّهُ مَنْ عَفَا وَأَصْلِحْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ , وَصَاحِبُ الْعَفْوِ يَنَامُ اللَّيْلَ عَلَى فِرَاشِهِ , وَصَاحِبُ الِانْتِصَارِ يُقَلِّبُ الْأُمُورَ …

Sebab, barang siapa yang memaafkan dan berbuat kebajikan, maka pahalanya dalam tanggungan Allah. Orang yang suka memaafkan itu sanggup tidur nyenyak pada malam hari di atas ranjangnya, sedangkan orang yang suka membalas itu urusannya rumit’.” [Hilyah al-Auliya, 8/112]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ   فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ  اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ …

“Dan akibat suatu kejahatan yaitu kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim..” [QS. Asy-Syura: 40]

Ketika Sultan Musa bin al-Malik al-Adil Abu Bakar mengirim utusan kepada al-Izz bin Abdussalam rahimahullah untuk meminta nasehat dan kehalalan atas apa yang pernah ia lakukan kepadanya. Maka al-Izz bin Abdussalam rahimahullah mengatakan,

أما محاللتك فإني كل ليلة أحالل الخلق وأبيت وليس لي عند أحد مظلمة وأرى أن يكون أجري على الله ولا يكون على الناس عملا بقوله تعالى ‏{‏فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ‏}‏ وأن يكون أجري على الله ولا يكون على خلقه أحب إلي وأما دعائي للسلطان فإني أدعو له في كثير من الأحيان لما في صلاحه من صلاح المسلمين والإسلام والله تعالى يبصر السلطان فيما يبيض به وجهه عنده يوم يلقاه …

“Adapun keterbebasanmu (ketermaafanmu), maka bergotong-royong saya membebaskan (memaafkan) banyak orang dalam setiap malam. Aku melewati malamku dalam keadaan saya tidak mempunyai suatu kezhaliman pada seorang pun, dan saya beropini supaya pahalaku berada di Tangan Allah, dan bukan di tangan manusia, sebagai bentuk pengamalan dari Firman-Nya:

فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰه

‘Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.’ (QS. Asy-Syura: 40)

Sungguh, pahalaku dalam tanggungan Allah, bukan dalam tanggungan makhluk, itu lebih saya sukai..

Adapun doaku untuk penguasa, maka bergotong-royong saya mendoakan untuknya di banyak waktu, alasannya kebaikannya yaitu kebaikan kaum Muslimin, juga kebaikan Islam. Semoga Allah memandang Sultan dengan sesuatu yang menimbulkan wajahnya putih berseri di sisi-Nya pada hari saat beliau berjumpa dengan-Nya..” [Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, 8/134]

Masyaallah, doa yang teramat indah dari seorang ulama untuk penguasanya. Semoga sanggup menjadi pelajaran bagi kita yang menginginkan kebaikan..

***

Esha Ardhie
Ahad, 04 November 2018